Mona Matbou Riahi: Nafas Iran dalam Klarinet Avant-Garde
Dalam dunia musik kontemporer, nama Mona Matbou Riahi mulai bersinar sebagai salah satu klarinetis paling inovatif dari generasi baru. Lahir di Teheran, Iran, dan kini bermukim di Wina, Austria, Mona menjadi simbol pertemuan dua dunia: akar budaya Iran yang penuh emosi dan teknik, serta eksplorasi musik eksperimental Eropa yang penuh kebebasan.
Dari Teheran ke Wina: Perjalanan Lintas Budaya
Mona mulai belajar klarinet sejak usia 9 tahun di Iran—sebuah negara dengan sejarah musik yang kaya namun penuh keterbatasan bagi perempuan. Dalam konteks sosial-politik Iran yang kerap membatasi peran perempuan dalam musik publik, keputusan Mona untuk memperdalam instrumen Barat seperti klarinet merupakan bentuk perlawanan lembut sekaligus dedikasi artistik yang mendalam.
Ia kemudian pindah ke Austria untuk menempuh studi di University of Music and Performing Arts Vienna, tempat ia membenamkan diri dalam spektrum musik klasik, improvisasi bebas, hingga eksperimental elektronik. Perpindahan ini bukan hanya geografis, melainkan juga artistik: dari sistem yang ketat menuju ruang-ruang improvisasi yang liar dan personal.
Klarinet sebagai Suara Jiwa
Sebagai klarinetis, Mona tidak sekadar memainkan nada. Ia mengolah klarinet menjadi medium ekspresif, menyatu dengan teknologi, rekaman lapangan, hingga manipulasi suara secara digital. Karyanya mengandung unsur bunyi yang "bernafas", penuh dinamika seperti gerakan puisi dan tarian.
Mona banyak bermain dalam genre seperti improvisasi kontemporer, jazz bebas, dan musik elektroakustik. Ia terlibat dalam berbagai kolaborasi lintas disiplin—termasuk proyek visual, tari, dan film—yang membuktikan bahwa klarinet bukan hanya alat musik klasik, tetapi juga kendaraan untuk penjelajahan emosi dan ideologi.
Identitas Iran dalam Bunyi Global
Meski berkiprah di panggung dunia, Mona tidak pernah meninggalkan identitas Iran-nya. Dalam banyak proyeknya, ia membawa semangat musikalitas Persia, baik melalui motif melodius, improvisasi mikrotonal, atau bahkan melalui nuansa sunyi dan kerinduan khas musik tradisional Iran.
Dalam proyeknya “Naqsh Duo” bersama pemain santur Golnar Shahyar, atau kolaborasinya dalam kolektif “Koenigleopold”, Mona menghadirkan Iran bukan sebagai eksotisme, tetapi sebagai subyektivitas perempuan Timur yang otonom dan berpikir bebas. Musiknya menjadi ruang di mana sejarah, identitas, dan imajinasi saling menyapa.
Perempuan, Iran, dan Kebebasan dalam Nada
Sebagai musisi perempuan dari Iran, Mona juga menjadi bagian dari gelombang perempuan Iran di diaspora yang menggunakan seni sebagai ruang artikulasi dan resistensi. Musiknya tidak memuat slogan politik, tetapi menyampaikan pesan kuat tentang eksistensi, tubuh, dan ekspresi dalam dunia yang sering mengekang.
Dalam wawancara, Mona sering menekankan bahwa musik adalah bahasa tanpa batas. Klarinetnya mengungkapkan sesuatu yang tidak bisa disampaikan dengan kata-kata: kerinduan akan tanah air, perlawanan terhadap keterbatasan gender, dan pencarian akan bentuk-bentuk ekspresi yang jujur.

Komentar
Posting Komentar